Kuatkan Kehidupan Nelayan Muslim Melalui Kajian Wawasan KeIslaman

Selasa, 11 Agustus 2020

Musibah Tsunami senyap Selat Sunda yang terjadi pada akhir tahun 2018 di beberapa kawasan di wilayah Banten dan Lampung Selatan, menyisakan luka mendalam bagi mereka yang terdampak, khususnya mereka yang bertempat tinggal dan mencari penghidupan dari laut dan kawasan pesisir pantai. Kejadian tersebut menimbulkan traumatis yang mendalam bagi para penyintas, para nelayan yang pada saat itu sedang melaut, karena berada diatas kapal ataupun perahu, tidak merasakan dan terkena dampak dari gelombang Tsunami tersebut, namun saat mereka pulang, betapa kagetnya mereka saat melihat rumah dan kampung halamannya berantakan, keluarganya terpencar dan entah kemana, yang tersisa hanya puing-puing dan jenazah yang bergelimpangan.

Dampak materil seperti kerugian harta benda, kerusakan perahu, tempat usaha, rumah dan lain sebagainya mungkin masih bisa mereka usahakan kembali, bisa mereka bangun lagi, namun rasa traumatis dan kesedihan tidak mudah terobati. Berangkat dari hal tersebut, LAZ Harapan Dhuafa menangkap suatu hal yang begitu esensial yang amat diperlukan dan bahkan sangat dibutuhkan oleh para nelayan, yaitu kedamaian batin, ketenangan jiwa, motivasi spiritual dan wawasan keruhanian untuk menghadapi rasa traumatis tersebut. Karena dampak traumatis bukanlah sesuatu yang bisa digantikan oleh materi, maka pemahaman dan wawasan keagamaan di ranah spiritual pun bisa memberikan dampak pengaruh dalam menjalani hidup yang lebih baik, dan untuk menumbuhkan kembali semangat dan memberikan edukasi untuk mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa.

“Batin lebih tenang, hati jadi adem rasanya, itu yang dirasa waktu sudah ikut Kabayan (Kajian Bareng Nelayan), kita jadi tahu juga cara-cara ibadah kalau lagi ditengah laut. Kalau dulu kadang suka kepikiran mau seperti ngeluh (Red- Mengeluh) mikirin gimana tangkapan ikan sedikit, mau dapat banyak atau sedikit serasa tidak ada bedanya. Kalau sekarang ngerasa jadi ada keberkahan seperti itu, dapat sedikit kita bersabar, dapat banyak ikan kita bersyukur. intinya hati jadi senang seperti itu, bahagia ya tentram” Ujar Jukri nelayan asal kampung Masjid.

Maka untuk hal tersebut LAZ Harapan Dhuafa bekerjasama dengan BMM (Baitul Maal Muamalat) untuk mengagas sinergi program sosial yang dinamakan dengan Desa Harapan Muamalat, yaitu desa harapan untuk para nelayan dan warga pesisir pantai agar bisa hidup lebih berdaya, bisa bangkit dan pulih dari luka bencana. Dan salah satu program yang tercakup di dalam program Desa Harapan Muamalat yaitu adalah KABAYAN (Kajian Bareng Nelayan), para nelayan diberikan pembelajaran terkait wawasan keIslaman, motivasi ruhani, majelis taklim, pengajian nelayan dan seputar pengetahuan fiqh dasar dalam menjalankan ibadah. program KABAYAN adalah salah satu sub-program di dalam program Desa Harapan, saat ini Desa Harapan dilaksanakan di 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Panimbang, Carita dan Cinangka.

Edi Humaedi selaku Ustadz pengisi program KABAYAN menerangkan bahwa kegiatan ini sungguh mempengaruhi pola dan kehidupan para nelayan, memberikan dampak secara psikologis bagi perubahan kehidupan di masyarakat nelayan, khususnya nelayan muslim.

“Para nelayan yang kesehariannya melaut kadang tidak punya waktu untuk ikut pengajian atau taklim di mushola atau masjid, karena mereka harus memikirkan untuk mencari makan dan nafkah untuk keluarga. Adanya program KABAYAN ini bisa menjadi alternatif untuk para nelayan belajar wawasan keagamaan. Selain bantuan yang sifatnya materi atau seperti bantuan-bantuan fisik, hal-hal seperti ini, ruhiyah, ketentraman batin, pemahaman agama untuk menjalani kehidupan pun sangatlah penting bahkan dibutuhkan. Karena ketentraman jiwa dan ketenangan batin kan tidak bisa didapatkan dari harta atau benda”. Terang Ustadz Edi Humaedi

Jahidin Kepala Divisi Pendistribusian dan Pendayagunaan BMM menjelaskan bahwa program KABAYAN adalah salah satu bentuk bantuan moril bagi para nelayan, karena menurutnya sebanyak apapun dana, uang atau apapun yang diberikan, bila tak ada ketentraman dalam hati dan jauh dari spiritualitas maka dana bantuan atau apapun itu tidak akan bisa membantu.

“Kegiatan ini untuk men-trigger kajian-kajian ruhani bagi nelayan, karena kesibukan dalam aktifitas melaut, kadang para nelayan kita tidak sempat atau tak ada waktu untuk ikut pengajian atau majelis taklim. Dengan adanya program ini diharapkan bisa membentuk kehidupan nelayan muslim yang dilimpahkan keberkahan, meningkatkan ketaqwaan dan juga menumbuhkan motivasi spiritual bagi diri dan keluarganya”