BANTU PAHLAWAN KELUARGA HADAPI DAMPAK COVID-19..

BANTU PAHLAWAN KELUARGA HADAPI DAMPAK COVID-19..

Rp 154.450.801
dari target Rp 500.000.000
30.89% Tercapai
Sisa Waktu 68 Hari

Deskripsi Program

Seharian berkeliling menawarkan jasanya, di dompet Pak Prawoto hanya ada uang lama. Sekedar membeli lem untuk mengesol saja tidak bisa.

 

 

Kasus Covid-19 meningkat lagi, tercatat 89.869 kasus positif di Indonesia (21/7).

 

Saat ini pemerintah telah menghimbau agar masyarakat bersiap untuk hidup new normal, dimana masyarakat diminta untuk hidup berdampingan dengan COVID-19. Hal itu membuat mereka para pekerja informal, seperti abang becak, abang ojek, pedagang kecil, maupun sopir angkot, harus berjuang lebih keras agar keluarganya bisa tetap makan hari ini dan besoknya.

 

“Sekarang cari pelanggan makin sulit. Di dompet aja cuma ada uang lama. Buat beli lem sepatu aja gak bisa, karena gak ada uangnya.” Pak Prawoto - Tukang sol sepatu

 

Seperti Pak Prawoto, usianya kini sudah 59 tahun. Setiap harinya beliau berkeliling menyusuri jalanan mencari pelanggan menawarkan jasa sol sepatu dan sendal. Di tengah Pandemi ini, penghasilan Pak Prawoto yang tak menentu semakin berkurang, namun beliau harus tetap berjuang demi menafkahi istri serta anak yang masih membutuhkan biaya sekolah. Beliau kini hanya bisa pasrah dan menyerahkannya kepada Sang Pencipta, beliau yakin pasti akan ada jalan bagi mereka yang selalu mau berusaha.

 

Sahabat, kondisi tersebut membuat kita harus peka dan peduli terhadap sekitar, dengan patungan sembako maka akan banyak pejuang keluarga yang terbantu dan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Ayo saatnya kita menjadi bagian #siagaCovid-19 untuk meringankan beban para pejuang keluarga dan menyelamatkan mereka dari dampak Covid-19, caranya:

  1. Klik "Donasi Sekarang"
  2. Masukkan Nominal atau Pilih Nominal yang Tersedia
  3. Pilih Metode Pembayaran (Go-Pay/Mandiri/BSM/BCA/Internet Banking lainnya)
  4. Transfer Sesuai dengan Nominal yang Tercantum Beserta Kode Uniknya

Selengkapnya  
Lebih Sedikit  

Berita Terbaru

Rabu, 29 April 2020 : Merenda Asa Ditengah Pandemi

Musibah kelaparan sedang melanda dunia, seiring dengan wabah Covid-19 yang belum juga ada tanda-tanda akan mereda. Masyarakat tak bisa beraktivitas normal seperti biasanya karena aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Para tulang punggung keluarga tak bisa bekerja mencari nafkah, bahkan mereka juga harus kehilangan pekerjaan.

Ibu Titi asal Cimanuk, Pandeglang-Banten ini adalah salah satu dari sekian banyak dari mereka yang harus merasakan dampak ekonomi dari wabah Covid-19. Sehari-harinya, Ia bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tak menentu.

Saat ini, Ia tinggal bersama anaknya yang kondisinya juga penuh dengan keterbatasan, Ia hanya memiliki satu kamar tidur, karena rumahnya roboh termakan usia. Kondisinya semakin berat, karena Ia masih harus menghidupi dan membiayai satu anaknya yang masih bersekolah di Madrasah Aliyah (MA).

Ia bersyukur ditengah pandemi yang tak kunjung usai, ada banyak uluran tangan-tangan kebaikan dari para sahabat yang dermawan, seperti bantuan dalam bentuk kebutuhan sehari-hari untuk para pahlawan keluarga oleh LAZ Harapan Dhuafa, pada Senin (27/4).

Bantuan seperti ini meski tak seberapa, namun dampaknya sangat besar bagi mereka,  membantu mereka merenda asa ditengah pandemi ini. Terimakasih atas kebaikan hati sahabat semua. Di bulan suci Ramadhan ini, mari bersama kita perbanyak do’a agar pandemi Covid-19 segera berakhir.  

Senin, 27 April 2020 : Penyaluran Bantuan Sembako Untuk Warga

Assalamualaikuum WR WB.

 

Sahabat, kita mewakili ratusan Pahlawan Keluarga mengucapkan terima kasih kepada Donatur semua sehingga banyak dari mereka para Pahlawan Keluarga yang sudah terbantu. Hingga saat ini, jumlah Pahlawan Keluarga yang sudah menerima bantuan sekitar 278.

 

92e400b0-5d87-4656-a3d3-d5862e230e31.jpg

 

Salah satunya adalah Ibu Yati Sulastri (48 th) dan anak-anaknya menghabiskan hari-harinya di gubug sederhana di Cigading Pasar, kelurahan Kubangsari, kecamatan Ciwandan, Cilegon-Banten.

 

3b715b93-e33a-4ae8-b91d-3a0d8c0d3cf1.jpg

 

Sehari-hari beliau berjualan gorengan dan kopi di jalanan. Akan tetapi semenjak covid-19 mewabah, jualannya tidak laku dan semakin kesulitan dalam mendapatkan penghasilan. Apalagi Ibu Yati mengidap penyakit kelenjar tiroid, sesak napas, dan penyakit jantung. Berangkat dari hal itu, pada Sabtu (18/4), kami mengunjungi Ibu Yati di rumahnya dan menyampaikan amanah dari sahabat semua.

 

f7d21c24-9218-45d4-a6f3-86d322e4cff2.jpg

 

Sahabat, kita semua bisa berperan mengakhiri kesusahan mereka dengan bersama-sama patungan sembako untuk meringankan kehidupan mereka ditengah wabah Covid-19 bersama LAZ Harapan Dhuafa.

Rabu, 22 April 2020 : Takzim LAZ Harapan Dhuafa Untuk Para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Jalan berbatu, curam dan terjal yang harus dilewati oleh Tim LAZ Harapan Dhuafa saat hendak melakukan distribusi bahan pangan menuju Kp. Pasir Menteng belumlah seberapa bila dibandingkan perjuangan para guru ngaji, guru madrasah dan para ustadz pengajar Quran, yang harus bertahan dengan berbagai keterbatasan di pelosok perkampungan.

Berada di daerah pelosok, sering kali membuat mereka terlupakan atau seolah tak nampak di permukaan. Terlebih di saat kondisi krisis akibat pandemi Covid-19 seperti ini, beban yang harus mereka jalani jadi semakin berat. Mereka yang menjadi salah satu ujung tombak bagi pendidikan dan keilmuan di pelosok perkampungan jadi semakin kesulitan.

Inilah yang membuat Tim LAZ Harapan Dhuafa terketuk untuk bisa membantu dan meringankan beban para pahlawan tanpa tanda jasa, dengan mendistribusikan paket bantuan bahan pangan pada (18/04) untuk sekitar 100 jiwa di Kp. Pasir Menteng, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang-Banten. Kepedulian kita semua kepada mereka, bisa membantu mereka untuk bertahan dan terus berjuang dalam pengabdian mendidik generasi bangsa ke depan. Sebentuk rasa takzim LAZ Harapan Dhuafa untuk mereka, para guru ngaji, guru madrasah dan para ustdaz di pelosok perkampungan. Semoga bisa menumbuhkan semangat dan kekuatan bagi mereka untuk terus berjuang dan memberikan pengabdian terbaik untuk generasi masa depan.

Selasa, 07 April 2020 : Berbagi Nasi dan Edukasi untuk Hadapi Pandemi Bagi Pahlawan Keluarga

Beberapa pekan yang lalu saat WFH mulai diberlakukan untuk menekan penyebaran Covid-19, orang-orang yang bekerja di kantoran mulai berdiam di rumah dan melakukan pekerjaan secara daring (online), sekolah-sekolah pun diberlakukan hal yang sama, yaitu melakukan study from home, ruang publik pun seperti tempat pariwisata dan rekreasi untuk sementara ditutup. Para pedagang kecil gigit jari, karena titik lokasi-lokasi yang biasanya menjadi tempat mereka untuk usaha dan mencari nafkah dengan terpaksa sementara harus ditutup dan itu berimbas tiadanya pengunjung, tiada pengunjung maka tiada pembeli.

Dan hal tersebut yaitu WFH (Work From Home) tidak berlaku bagi para pekerja informal, yang dimana mereka harus tetap melakukan aktifitas di luar, seperti pedagang kecil, pedagang keliling, pemulung, tukang becak, petugas kebersihan, ojek dan sejenisnya. Sementara mereka terpaksa harus tetap bekerja sambil menunggu kebijakan ataupun tindakan dari Pemerintah terhadap bagaimana nasib mereka ke depan.

“Iya emang sangat terasa ini setelah ada Corona itu dan anak-anak sekolah diliburin apa belajar dirumah itu namanya, anak-anak saya belajar online itu katanya kan, kan itu harus pakai internet juga. Apa namanya, kuotanya itu kan harus tetap beli juga. Nah kalau saya gak keliling jualan, terus uangnya dari mana. Ada buat makan aja udah Alhamdulilah, iya takut juga sih ama Corona, takut ketularan. Iya tapi mau gimana lagi, dagangan emang agak sepi sih pas ada Corona, tapi Alhamdulilah masih ada aja yang beli”. Ungkap Yadi, pedagang kue pancong asal Pandeglang saat ditemui Tim LAZ Harapan Dhufa ketika progran pendistribusian nasi kotak untuk pahlawan keluarga.

Selasa, (7/4) Tim LAZ Harapan Dhuafa melaksanakan program distribusi nasi kotak untuk para pekerja informal yang terpaksa masih harus bekerja di luar rumah, mereka adalah para pahlawan keluarga yang harus tetap bekerja di luar untuk menafkahi keluarga. Kamal Mubarok selaku pelaksana program menjelaskan bahwa distribusi nasi kotak untuk para pekerja informal sebenarnya selain sebagai bentuk dukungan dan apresiasi untuk para pekerja informal ditengah badai kesulitan akibat Covid-19, tujuan lain yang sesungguhnya adalah memberikan edukasi dan informasi kepada mereka terkait pemahaman terhadap Covid-19 agar mereka bisa mengetahui langkah ataupun tips aman kendati mereka terpaksa harus bekerja di luar, seperti menyarankan untuk memakai masker, membawa handsanitizer, menjaga kebersihan barang dagangan edukasi preventif lainnya.

“Selain distribusi nasi kotak, sebenarnya kita juga menyisipkan edukasi dan informasi agar mereka bisa menerapkan langkah preventif dan keamanan untuk diri mereka yang terpaksa masih harus bekerja di luar. Karena para pekerja informal ini yang paling jarang atau minim mendapatkan informasi yang memadai terkait Covid-19. Mereka hanya tahunya Corona saja, ini dibuktikan ke beberapa orang pekerja informal ketika diwawancarai terkait apa yang mereka tahu tentang Covid-19 atau yang mereka kenal dengan nama Corona, dan saat ditanyai tentang bagaimana cara untuk mencegahnya atau cara bagaimana Covid-19 menyebar, kebanyakan dari mereka hanya menggelengkan kepala (tidak tahu).” Ungkap Kamal Mubarok saat melakukan distribusi nasi kotak untuk para pekerja informal.

Sedangkan Samlawi (65) pedagang pisang keliling tersenyum dan mengungkapkan rasa bahagianya ketika tim LAZ Harapan Dhuafa mendistribusikan nasi kotak untuknya dan atas informasi yang bisa ia dapatkan terkait Covid-19.

Kamis, 02 April 2020 : Kebutuhan Pangan untuk Pahlawan Keluarga

Covid-19 telah menjadi salah satu pandemi di abad modern yang memiliki imbas begitu besar, dampak yang dirasakan tidak terbatas hanya pada dunia medis, tapi juga berimbas kepada ekonomi, sosial, budaya dan lainnya. Banyak hal yang berubah akibat adanya pandemi ini, salah satunya tentang bagaimana cara berinteraksi, kini untuk menekan penyebaran Covid-19 kita diharuskan untuk melakukan physical distancing yaitu memberikan jarak fisik walau hanya untuk sekedar berbicara pada sanak keluarga, dan selain physical distancing, mulai juga diberlakukan work from home, yaitu melakukan pekerjaan dari rumah, yang dikerjakan melalui daring.

Akan tetapi tidak semua pekerjaan bisa dilakukan secara WFH (Work From Home), WFH hanya bisa dilakukan oleh mereka yang jenis pekerjaannya adalah perkantoran atau yang pekerjaan yang bisa memanfaatkan teknologi digital dan jaringan internet ataupun yang sejenis. Mereka yang bekerja WFH masih bisa merasa aman, karena masih bisa bekerja secara daring di rumah dan memiliki jaminan pendapatan.

Tapi hal itu tidak bisa dilakukan oleh para pedagang kecil seperti tukang ojek online, penjajak kue keliling, tukang becak, penjual sayuran di pasar, dan pekerjaan sejenis lainnya yang mengharuskan mereka melakukan interaksi sosial. Mau tidak mau mereka harus tetap usaha dan berjualan untuk memenuhi biaya hidup dan makan sehari-hari, sekalipun taruhannya adalah sebuah resiko besar untuk tertular Covid-19.

Salah satunya seperti yang dialami oleh Ruslan (41), seorang tukang ojek online asal kota Serang, “Ya mau bagaimana lagi, saya mau makan dari mana, mau bayar listrik dari mana, usaha utamanya ngandelin ojek online ini, dan sekarang ini sepi pas ada Corona itu. Ya padahal saya takut ketular juga, tapi saya harus gimana. Kalau diam aja di rumah, nanti saya makan gimana, dapat uang dari mana, keluarga mau dikasih makan apa?”. Tuturnya. Kenekatan yang mereka lakukan bukan tanpa sebab, tapi lebih karena keadaan terpaksa.

Dengan melihat keadaan yang demikian terasa begitu berat bagi kaum rentan terhadap dampak yang diakibatkan oleh Covid-19, maka LAZ Harapan Dhuafa Banten tergerak untuk bisa serta meringankan dan membantu kaum rentan yang terdampak oleh Covid-19. Salah satunya yaitu adalah melakukan pendistribusian bahan pangan, setelah sebelumnya melakukan penyemprotan disinfektan, membagikan hand sanitizer untuk para ojek online, abang becak, penjual batagor keliling, fakir miskin dan kaum rentan yang secara prioritas sangat perlu untuk segera dibantu. pendistribusian tersebut dilakukan pada Kamis, (2/4) oleh tim Siaga Covid-19 LAZ Harapan Dhuafa di beberapa titik lokasi yang berbeda di wilayah Banten.

                                                                                         

Indah Prihanande, selaku Direktur Utama LAZ Harapan Dhuafa mengungkapkan bahwa semuanya juga harus memperhatikan dampak yang diakibatkan oleh Covid-19 selain dibidang medis, ada hal yang kita juga harus peduli untuk memperhatikan hal tersebut, yaitu dampak sosial ekonomi bagi kaum rentan. Saat ini mereka begitu kesulitan karena orang-orang mulai menerapkan physical distancing dan jarang melakukan interaksi sosial formal keluar rumah, sehingga mengakibatkan menurunnya rasio pembeli dan pengguna jasa.

“Kami berharap dengan adanya program distribusi pangan ini bisa membantu meringankan dan menguatkan mereka untuk menghadapi keadaan krisis saat pandemi Covid-19 ini,” tambahnya.

Kepedulian kita terhadap sesama bisa menyelamatkan kita semua dari resiko penyebaran Covid-19, dengan membantu mereka agar bisa merasa aman dalam menghadapi masa sulit selama pandemi maka kita telah berusaha untuk bersama mencegah Covid-19.


Selengkapnya  
Lebih Sedikit  

Riwayat Donasi

Loading...


Lihat Semua  
X

Riwayat Donasi


Loading...

Tutup

Facebook Twitter Google Pinterest Text Email